Jumat, 09 Mei 2014

Cerpen 1 : Satu Tahun Yang Takterlupa


SATU TAHUN YANG TAKTERLUPA



Perkenalkan nama saya Reza Pandu Syahputra, Ini tahun pertamaku sekolah di Bandung.

Awalnya aku bersekolah di Jakarta tetapi karena pekerjaan Ayahku akhirnya aku

dipindahkan ke sini


"Krrriiinngg..."
bunyi alarm yang telah menunjukan pukul 6 pagi, aku langsung bergegas dan menuju kamar mandi untuk bersiap pergi kesekolah, setelah selesai bersiap akupun langsung menuju meja makan untuk sarapan sebelum pergi kesekolah

Untuk hari pertama ini Ayahku mengantarku pergi kesekolah, karena untuk hari hari selanjutnya aku akan berangkat sendiri dengan sepeda motor yang telah ayah berikan
Sesampainya disekolah aku langsung berjalan menuju ruang guru untuk memastikan kelas mana yang akan aku tempati.

"Tenotenotnonet...."
Bel masuk sekolah sudah berbunyi, dan Aku bersama wali kelas baruku Bu Mely bergegas menuju kelas yang akan aku tempati.
Sesampainya dikelas aku dipersilahkan untuk memperkenalkan diri
"Perkenalkan Nama Saya Reza Pandu Syahputra, panggil aja Reza, Saya Pindahan Dari Jakarta, Mohon Bantuannya"
Ucapku dengan ramah.

"Reza kamu bisa duduk di.. emm di belakang Viny" ucap Bu Mely sambil menunjuk kearah sesosok gadis yang bernama Viny tersebut, ketika aku mulai berjalan kebelakangnya ia sedikit menoleh kearahku dan saat itu dadaku berdegup kencang dan didalam hati ini tak tersadar ku berteriak "Kenapa aku jadi nerves gini ya?" ucapku didalam hati
Jam pelajaranpun dimulai dan tanpa terasa waktu istirahatpun tiba, semua siswa termasuk Viny pergi kekantin, dan saat kutengok ke samping ada seseorang yang mendekatiku, lalu ia melambaikan tangan dan berkata 
"Yo Nama Gue Adhit, Salam kenal" ucapnya dengan santai 
"Saya Reza" balasku sambil tersenyum, lalu aku mengobrol beberapa saat dengannya kemudian ia mengajaku untuk pergi kekantin 
"Eh Za kekantin yuk??" ucapnya 
"Ntar aja, Lu aja duluan" balasku 
"Oh yaudah Gua duluan" sambil berjalan keluar kelas, 
beberapa saat setelah Adhit pergi lalu Viny masuk ke kelas yang hanya ada aku seorang karena semua siswa masih di kantin, ia lalu duduk didepanku ku tanpa menghirawkanku, akupun beranjak dari tempat duduku, dan menghampirinya 
"Hai Aku Reza, kalo boleh tau siapa nama kamu?" tanyaku 
"Aku Viny" balasnya dengan sedikit senyuman. 

Setelah beberapa saat mengobrol akhirnya bel masuk pun terdengar dan kami melanjutkan pelajaran.
Bel pulangpun berbunyi dan para siswa segera membereskan barangnya lalu bergegas pulang, sebelum pulang rencananya aku mau mengunjungi perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. 

Setelah selesai dari perpus akupun bergegas pulang.

Beberapa hari berlalu seperti biasa Aku pergi kesekolah dengan menggunakan sepeda motorku, namun kali ini aku harus terburu tuburu karena, tadi pagi aku bangun terlambat. Untungnnya aku tak terlambat sampai kesokolah.


Saat istirahat tiba aku bersama Adhit pergi ke kantin, begitu pula Viny bersama temannya yaitu Noella, ketika dikantin seperti biasa aku duduk paling pojok bersama Adhit, dan ketika kulihat kemeja sebelahku kulihat Viny bersama temannya, sedang asik mengobrol. Ketika Aku sedang mengobrol, sesekali aku selalu menengok kearahnnya dan iapun seperti melihat kearahku, sialnya perilaku anehku terlihat oleh Adhit lalu ia bertanya

“Za ngapain lu?

“Kagak”
“gua peratiin lu liat ke mereka mulu” sambil menunjuk kearah Viny dan Noella dengan dagunya
“Kagak lu kali yang meratiin mereka”
“Lu suka ya sama si Viny?” tanyanya
“ Nggak kok, kata siapa?” 
“Udah deh ngaku aja, Gua udah tau lagi” 
“Hmm.. gimana ya, I-iya sih.., emang kenapa” Jawabku gagap
“Engga, Lo deketin aja mumpung dia single”
“Ah engga ah malu gua”
“Lah malu kenapa?, Lo udah ganteng, pinter, kurang apa lagi coba?
“Nah lo sendiri?”
“Gua? Gua mah udah punya”
“Siapa? Udahlah jangan boong, lagian mana ada orang yang mau sama lu hahaha” Ledekku
“Eh tega lo Za ya, gini gini gua juga laku, mau bukti?”
“Coba buktiin”

Lalu Adhit memanggil nama seseorang

“Noell!!” sambil melambaikan tangannya

Lalu Noella menengok dan hanya membalas dengan senyuman, Akupun sedikit kaget, ternyata Adhit mempunyai hubungan dengan Noella. Tak lama bel tanda masuk berbunyi, setelah kami masuk kelas dan mengikuti pelajaran, akhirnya waktu pulang tiba

Saat aku sedang membereskan buku dikelas dan semua orang sudah pulang, tiba tiba ada seseorang yang mendekatiku
“Woi Za” sapa Noella
“Eh Noell, ada apa?”
“Engga Aku Cuma mau ngasih ini” sambil memberiku serobek kertas
“Ini apaan?” tanyaku heran
“Itu E-mail Viny, udah ya Aku pulang duluan” lalu bergegas keluar

Aku tidak tau maksud dari itu, tapi sepertinya Noella pun sudah tau bahwa aku punya rasa terhadap Viny temannya. 


Sesampai dirumah akupun tidak tau apa yang harus kulakukan dengan kertas itu, aku hanya memandanginya, dalam hati aku ingin menghubunginya, namun rasa takut selalu menghantuiku, namun ketika malam aku mencoba untuk memberanikan diri menghubunginya, ibu jariku mulai menekan tombol tombol pada HandPhone, dan akupun mencoba dengan mengirimnya pesan E-mail


*Email

R : Reza

V : Viny



R: Hi malem Vin

V: Maaf, ini siapa ya?

R: Aku Reza, maaf ya ganggu
V: Oh Reza, ada apa Za?, nggak kok gak ganggu
R: Iya hehe, ngga kok Cuma pengen nanya, tugas seni budaya kapan dikumpul?
    “Alesan macam apa ini, tapi ya sudahlah” pikirku dalam hati
V: Oh itu, kayanya masih minggu depan deh, soalnya minggu ini Cuma teori doang
R: Ohehe Makasih Vin…
V: Oke sama sama…


Beberapa hari berlalu dan akhir akhir ini Aku selalu memikirkan Dia, ya Viny, atau nama lengkapnya Ratu Vienny Fitrilya si gadis artistik baru saja aku kenal, kenapa gadis artistic? Mungkin karena kepandaiannya terhadap seni sangat luar biasa, namun entah kenapa wajahnya selalu terbayang dibenaku, dan selain di dunia nyata kamipun sering mengobrol lewat E-mail yang aku dapat dari temannya.

“Woy sadar woy jangan ngelamun mulu” teriak Viny padaku yang sedang melamun.

Akupun terhentak dan lalu berkata 

“Ia.. cerewet” balasku dengan nada kesal
“Hahaha… makanya masih pagi jangan ngelamun mulu, ntar kesambet lho.. haha” Ledeknya.
      Melihatnya tertawa membuat hatiku sangan tenang, Oh iya akhir akhir ini aku semakin dekat dengannya dan aku merasa semakin nyaman bila bersamanya.
“Ciee anak baru udah ada yang suka” Candanya 
“Apaan sih Vin?” Jawabku singkat dengan perasaan yang heran
“Aku denger denger dikelas sebelah ada yang suka sama kamu lhoo hahaha. 
Kenapa gak kamu respon aja”
“Ngapain? males ah..”
“Ya kasian juga kan, kamu diemin terus”
“Kan menyukai atau disukai itu hak setiap individu”
“Maksudnya”
“Misalnya gini, Aku suka kamu, ya biarin ini hak dan urusan aku, gimana respon atau tanggepan kamu, terserah itu urusan kamu, aku gak bisa maksa” (Tanpa kusadar aku mengutarakan perasaanku padanya) 
“Aku ngerti , jadi kalo kita suka sama orang kita gak bisa maksa dia buat suka juga sama kita, karena setiap orang punya hak masing masing, benerkan?
“Nah itu ngerti, Ratu ternyata pinter, Cuma sayangnya agak telat hahaha….”
“Apaan sih aku gak gitu kali, itu kamunya yang ngejelasinnya singkat, terus gk jelas, huuuu”
“Iya iya deh ngalah aja hahaha..”
“Eh Za, ntar sore mau gak anter aku ke toko buku?” 
“Emang mau ngapain?”
“Ya beli bukulah”
“Ya kalo itu aku juga tau”
“Ya kenapa nanya lagi?, mau gak?
“Iya iya Ratu…”
“Apaan sih, yaudah ntar pulang sekolah kita langsung pergi”
“Eh kamu gak pulang dulu?”
“Gak usah, tadi pagi aku udah izin dulu”
“Oke deh”


Sepulang sekolah kamipun bergegas menuju toko buku, ditengah perjalanan kita berdua hanya diam tak bicara sedikitpun, apa karena aku terlalu gugup?, karena ini kali pertama aku membonceng Viny.

Sesampai ditoko buku kamipun langsung masuk, dan tanpa pikir panjang Viny langsung menuju kebagian Art atau seni, ya memang sudah kutebak pasti seni.

“Za Aku mau nyari buku dulu yah” Ucapnya sambil berjalan menjauhiku

“Yaudah sana, jangan lama lama” Teriaku
Hanya sekitar 30 menit Viny sudah kembali, dan membawa beberapa buku, setelah kulihat ternyata semua buku yang ia beli tak lepas dari unsur Seni.

Setelah dari toko buku aku mengajak Viny untuk mampir ke Kedai yang tak jauh dari tempat itu
“Vin, udah makan belum? Ntar pulangnya makan dulu yuk? 
“Belum, yaudah, emang mau makan dimana?
“Ikut aja tempatnya enak kok”
“Oke”


Akhirnya kita sampai di sebuah Kedai yang sederhana, saat kita sedang asik makan tiba tiba hujan turun, dan entah kenapa saat hujan turun Viny selalu melihat kearah luar,

“Eh Vin kenapa dari tadi kamu ngeliatin hujan terus?”

“Aku suka hujan” Jawabnya singkat
“Kenapa kamu menyukainya?”
“Karena pas lagi hujan itu sangat indah dan banyak orang yang menginginkannya, disaat bumi sedang panas hujanlah yang membasahi, tumbuhan bisa tumbuh hujan yang menyiraminya, Aku ingin mempunyai seseorang seperti hujan, disaat Aku lelah dia yang akan menyemangatiku, disaat aku terjatuh dia yang akan membantuku untuk bangkit, dan disaat aku sedang marah, aku harap dia yang meredakan emosiku”
“(Vin kau adalah hujan untukku, dan Aku akan menjadi hujan untukmu, Ucapku dalam hati) Aku harap dia akan segera datang untukmu (Ternyata diriku mungkin suka kepadamu hujan mendadak ku harap tidak berhenti, lagi ucapku dalam hati)”
“Ya aku harap ia segera datang, eh hujannya udah agak reda, pulang yu?
“Yakin nih berani? Ntar kamu kedinginan lagi” Ejekku
“Oke siapa takut, lagian udah sore juga, takut pulang telat hehe”

Kamipun akhirnya pulang dengan diguyur hujan yang rintik rintik, dan akhirnya sampai didepan rumah Viny

“Za mampir dulu gak?

“Gak ah udah kemaleman, ntar aja kapan kapan”

“Hmm.. okedeh hati hati yah, Bye”
“Bye, besok kesekolah aku jemput kamu yah…” Teriaku


Keesokan harinya seperti janjiku,aku akan menjepmput Viny dirumahnya. Padahal baru pukul 6.00 pagi, namun aku sudah berangkat, taak seperti biasanya. Sesampainya disana ternyata Viny telah menunggu diluar rumah.

“Udah lama Vin?”

“Nggak kok, baru aja keluar”

“Hmm… Yaudah langsung aja yuk!”
“Oke (sambil menaiki sepeda motorku)

Akhirnya kamipun pergi, tapi ditengah jalan hujan rintik rintik mulai turun akupun sedikit mempercepat laju motorku.
"Eh Za kok ngebut sih?"

"Gapapa, soalnya kayanya mau ujan"

"Udah gapapa, ntar jatoh lho"

"Aku udah biasa kok, daripada kamu sakit"

"Ciee yang perhatian hahaha..."
"Wajarlah kalo aku perhatian sama Ratu hahaha..."
"Udah ah, fokus aja nyetirnya"
"Iya iya mba Ratu haha..."
"Ihh kok Mba sih, dasar abang Ojek wee' hahaha.."
"Yaudah apa? Tante hahaha..."
"Ihh.. Enak aja Tante, Emang aku keliatan tua gitu?"
"Yah ngambek kayanya"
"Engga kok"
"Hmm.. Engga ya" (sambil mempercepat laju motorku)
"Ihh.. Ngagetin tau gak?" (sambil memukul pundaku)
"Ya kan biar kamu gak cemberut terus hehe..."
"Iya gak cemberut, tapi kalo jatoh gimana?"
"Ya kebawah hahaha..."



Akhirnya kita sampai disekolah, dan seperti yang telah kukira siswa siswa lain pasti akan memandangi kita. Ya Viny memang murid yang cukup terkenal, selain Ia punya paras yang cantik Ia pun murid berprestasi, dan memiliki keterampilan dibidang seni, ya mungkin itu penyebab aku diperhatikan ketika bersama Viny.



Hari demi hari berlalu namun aku belum berani mengungkapkan perasaanku pada Viny, namun aku tidak terlalu peduli, karena dekatnya saja aku sudah merasa puas.

"Vin pulang sekolah ada acara gak?"

"Engga kok Za, emang kenapa?"

"Engga cuma pengen ketemu aja"
"Lah ini kan udah ketemu hihihi..."
"Hmm.. tapi gk lucu ngelawaknya dasar, eh iya pulangnya bareng yuk?"
"Bukannya kamu ama Adhit?"
"Engga katanya dia mau main dulu"
"Oh yaudah, tapi entar anter dulu ke toko bunga?"
"Siap Ratu, saya siap melayani anda, hahaha..."
"Ihh, apaan sih, dasar, yaudah deh pulangnya aku tunggu di gerbang"
“Ngapain nunggu digerbang? orang kita selekas”
“Gapapa, Cuma males ke parkiran dulu wee’ hihi”


Sepulang sekolah kami mengunjungi toko bunga, yang tidak jauh dari sekolah, Akupun tidak tau apa yang akan Viny beli disana.

Sesampai disana kamipun melihat lihat, dan aku sempat terkejut ketika memasuki ruangan yang di penuhi bunga matahari, dan akhirnya aku tau kenapa ia mengajaku kesini, yap dia suka bunga matahari, "si gadis bunga matahari". Akhirnya setelah beberapa saat kamipun keluar tanpa membawa sesuatupun, dan akupun bertanya

"Eh kok gak jadi belinya?"

"Aku kesini emang bukan buat beli sesuatu"

"Maksudnya?"
"Aku cuma pengen liat bunga matahari doang"
"Loh kenapa gak kamu beli aja?"
"Bunga matahari yang tadi gak dijual"
"Hmm... Kamu suka Himawari?"
"Iya, kamu bisa bahasa jepang?"
"Yee, jangan salah gini gini aku jago"
"Coba bahasa jepangnya... "anjing menggonggong kafilah berlalu" apa?"
"Ya jangan yang kaya gitu juga kali, aneh dasar hahaha"
"Huh katanya jago, yaudah kalo aku apa?"
"Viny"
"Bukan yaelah dasar telat, maksudnya bahasa jepangnya "aku"?"
"Kamu yang aneh tiba tiba nanya aku apa. Apa tadi? Aku ya? Ehh.. Watashiwa"
"Kalo "cantik"?"
"Kireii"
"Jadi kalo "Watashiwa Kireii"?"
"Aku caantik"
"Ih cowo kok cantik? Hahaha..."
"Hmm... Dasar bisa aja kamu"
"Iyalah wee' haha.. "
"Yaudah pulang yu udah mau sore" 
"Iya iya hihi, jangan marah yaaa" (dengan nada mengejek) 
"Iyaa bawel" (balasku dengan nada mengejek juga)
 "yaudah yuk"


Akhirnya kamipun bergegas pulang, lalu sampailah dirumah Viny 

"Eh Za, mampir dulu yuk?"

"Aku malu Vin, emang ada siapa didalem?"

"Gak usah malu lagi orang datengnya sama yang punya, cuma ada mamah doang kok, yuk sekalian sembahyang dulu"
"ehh... Yaudah deh"
"Asalamualaikum, Viny pulang!"
"Walaikumsalam"
Akupun bingung ekspresi apa yang harus aku berikan ketika bertemu dengan orang tua Viny, 
"Pulang sama siapa Vin?"
"Temen maah.."
"Yaudah ajak temmennya masuk"

Kamipun masuk kedalam rumah, setelah sembahyang akupun sedikit mengobrol dengan Mamahnya Viny

"Namanya siapa?"

"Saya Reza tante"

"Rumah daerah sini?"
"Dua blok dari sini"
"Emm.. Yang kemaren nganterin Viny juga?"
"Iya tante hehe.."
"Temen sekelas Viny? Kok gak pernah liat?"
"Saya pindahan tante, awal taun ajaran baru"
"Hmm.. Yaudah tante titip Viny ya"
"siap tante!!"

Setelah mengintrogasiku lalu ia beranjak dan masuk kedalam, tak lama akhirnya Viny pun datang menghampiriku

"Maaf ya lama"

"Santai aja kali"

"Iya iya, eh Za, tadi mamahku ngomong apa?"
"Gak ngomong apa apa ko"
"Gk ngomong macem macem kan?"
"Engga ko"
"Kalo misalnya kamu ngerasa gak enak maaf ya"
"Iya Ratuuu"
"Iiih kebiasaan deh"
"Haaha maaf maaf, yaudah Aku pulang dulu ya, udah malem lagian."
"Oke hati hati dijalan"
"Oke, bye"


Ketika sampai dirumah aku berniat untuk mengirim email pada Viny, namun tanpa kusangka ia telah lebih dulu mengirimku Email.
*
V : Za, udah nyampe?
R : Udah kok udah :D..kamu curang tadinya aku mau ngirim email duluan tapi malah keduluan --
V : Hahaha.. Kamu kurang cepet Za
R : Iyalah orang aku baru nyampe --
V : Ehehe... XD
R : Idiiih malah ketawa :| Eh, kamu lagi ngapain?
V : Lagi bales Email kamu :3
R : Udah deh bercandanya, ini serius Ratu--
V : Emang benerkan, aku ngasih tau sesuai fakta
R : Iyadeh terserah -- eh iya tadi Mamah kamu ngomong apa?
V : Gk ngomong apa" kok  Lagian kebalik harusnya aku yang nanya gitu --
R : Oh iya,  yaudah sekarang kamu nanya kayak gitu sama aku
V : Males ah.... --"
R : Kok males?
V : Udah tanggung --
R : Ohehe..
V : Yaudah ya Za, udah malem aku mau istirahat dulu
R : Oke selamat beristirahat Ratu, See You ^^
V : See You ;)

Semenjak aku sering mengobrol dengan Mamahnya Viny, aku jadi sedikit lebih tau tentang Viny, misalnya ia ternyata bukan asli Bandung, iapun pernah bersekolah di Kalimantan (kurang tau lokasi pastinya), Palembang, Jogja, Bogor, Sukabumi dan akhirnya ia tinggal dan bersekolah di Bandung. Ya mungkin sepertiku yang selalu berpindah tempat tergantung, diamana Ayah ditugaskan, namun Keluarga Viny sudah memutuskan untuk tinggal di Bandung, dan jika Ayahnya ditugaskan di luar kota seperti saat ini, mereka tidak akan ikut, dan akan tetap tinggal.
Beberapa bulan berlalu, kamipun telah selesai menjalankan ujian semester ganjil, dan sudah kutebak, ya, pasti Viny menempati peringkat satu ntah itu dikelas, ataupun disekolah, dan aku, aku hanya menempati 5 besar dikelas, dan beruntung bisa masuk 20 besar disekolah.
Belakangan ini aku lebih sering pergi kerumah Viny hanya sekedar silaturahmi, atau mungkin memang sedikit cari perhatian pada mamahnya, karena sudah terbiasa kini aku sudah tak gagap lagi didepan mamahnya, bahkan kini kita sering bersama, ya hanya 3orang, Aku, Viny dan Mamahnya. Namun kadang, Adhit dan Noella ikut bersama kami
Viny hanya tinggal berdua, ia anak tunggal dan 1tahun terakhir ayahnya bekerja di luar negeri, dan mungkin akan pulang saat kenaikan kelas nanti kabarnya.
Beberapa bulan berlalu kami telah selesai mengikuti Ujian kenaikan kelas. Mungkin tinggal beberapa minggu lagi kita akan dikelas yang sama, ya menurut kabar yang kudengar tiap kenaikan kelas, murid murid di tiap sekelas selalu disebar, maksudnya kita yang sebelumnya dikelas yang sama, akan dipindahkan ke beberapa kelas yang berbeda, mungkin hanya 3 atau 4 orang saja yang akan masuk kelas yang sama.

Hari ini aku mengajak Viny untuk makan malam ditaman tempat kita bermain bersama, sekaligus aku ingin memberitahu kabar yang sangat menyedihkan, ya pagi tadi aku mendapat kabar bahwa ayah telah selesai bertugas di Bandung dan akan segera pindah kembali

Sesampai disana kita hanya mengobrol biasa, namun mungkin karena tingkahku yang aneh, setelah setelah makan ia akhirnya bertanya
"Ooiiii.... Kenapa sih dari tadi ngelamun mulu?"
"Iyalah orang baru beres makan, ini perut lagi ngecerna makanan jadi jangan banyak ngomong"
"Yaelah, lebay dasar, lagian dari siang tadi ngelamun mulu"
"Kan biar keliatan keren, jadi pendiem ceritanya hihi"
"Alah gak cocok muka kayak gini jadi pendiem haha"
"Hmm.. Ngeledek, terus cocoknya jadi apaan?"
"Jadi Reza yang periang, yang selalu ada saat aku butuh, yang selalu ngehibur aku saat sedih"
“Jadi “hujannya Ratu” maksudnya?
“Hahaha.. Yap tepat sekali

Mendengar itu hatiku jadi makin resah, semakin berat mengatakan yang sejujurnya, sejenak aku terdiam, menangis dalam diam, berteriak dalam sunyi. Akupun telah mengira hal ini akan terjadi, jadi aku telah membuat surat untuknya, yang telah kumasukan kedalam kotak hadiah yang telah kubawa.
"Eh Vin??"
"Apaan??"
"Aku punya sesuatu buat kamu, tapi tutup mata dulu"
"Oke oke, lagian pake rahasia rahasiaan segala sih"
"Iyalah inikan special"
"Iya pake telor dua ya bang, yaudah buruan"
Lalu aku mengeluarkan hadiah tersebut dan meletakan didepan Viny.
"Oke sekarang buka mata kamu"
"Wah apaan ini? Aku buka sekarang ya?"
"Jangan!! ntar aja dirumah kan biar jadi kejutan"
"Iya deh iya, nurut aja"
Pertemuan hari inipun berakhir, kuantarkan ia pulang, dan tak seperti biasa kali ini aku langsung bergegas pulang.
Sesampai dirumah aku melanjutkan keberangkatanku ke tempat Ayah bekerja selanjutnya.
Oh iya aku sampai lupa tentang hadiahku untuk Viny, didalamnya terdapat kalung berbentuk huruf "R" yang melambangkan nama kami, R untuk Ratu dan R untuk Reza, selain itu ada setangkai bunga Matahari, ya aku tau ia suka bunga Matahari, dan surat yang bertulisan.




Huh... Mungkin ini hal paling bodoh yang pernah kulakukan, berpisah dengan orang yang ku Suka tanpa mengucapkan selamat tinggal, itu mungkin 1 tahun yang paling indah dalam hidupku, dan takkan pernah kulupakan Selamanya. Tapi aku berjanji suatu saat nanti aku akan kembali, bersamamu, bersama kisah kita, dan merangkai kisah kisah baru. Bersamamu Ratu Vienny Fitrilya





Selesai...



Cerita ini terinspirasi dari.....>>>> Link<<<<

Jika ada kritik atau saran hubungi di sini, di sini atau fachrudinarrazi@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar