Senin, 18 Mei 2020

Dandelion (6)

Kulihat ia cukup menikmati percakapan kita, sesekali ia meneguk coffee nya selagi aku berbicara, sesekali ia melontarkan candaan yg membuat pertemuan kali ini terasa sungguh menyenangkan, namun sesekali kali ia melihat jam kukira ia bosan dengan percakapan ini hingga akhirnya aku memberanikan bertanya "kenapa? Apakah..." Sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku ia memotongnya seraya berkata
"Ngga, aku ingin mengajakmu ke tempat selanjutnya hanya saja, hari masih terlalu siang, dan cuaca cukup panas" katanya menjelaskan, sambil melihat jam aku bertanya "memangnya kenapa? Ada yg salah jika masih siang?"
"Tidak ada, hanya saja kita akan berjalan kaki ke tempat berikutnya, dan cukup jauh" katanya, yaa itu alasan masuk akal dan lagi jam masih menunkukan pukul 11.34 aku setuju akan merepotkan jika harus berjalan di tengah terik seperti ini.

Ia mengusulkan untuk sekalian makan siang ditempat ini, aku hanya berkata "iya" setelah itu ia melerik sekitar lalu mulai membungkukan badannya kearahku dan berbisik, "jangan pernah sekali kali kamu pesan sop iga disini" katanya
Aku menggerutkan dahi lalu bertanya "memangnya kenapa?" Lalu katanya "Soalnya gaada, kamu bakal ngerepotin kalo mau makan itu disini hahaha" kemudian ia tertawa, ya candaan ringan seperti itu yg selalu ia berikan agar kita tidak bosan yaa walaupun terkadang candaannya malah terasa garing..

Setelah makan siang, melakukan kewajiban dan hal lainnya sekarang waktunya untuk ke tempat berikutnya, jam sudah menunjukan angka 2 dan akhirnya kita beranjak dari sana, kita berjalan kaki ketempat berikutnya, katanya "tidak ada kendaraan umum yg menuju tempat itu, mau tidak mau kita harus berjalan kaki kesana" kutanya berapa lama ia menjawab "sekitar 15mnt, mungkin" Hari yg cukup panas dan aku harus berjalan selama 15mnt, tempat seperti apa yg akan kutuju memangnya pikirku ketika itu

15mnt kemudian dan kami sampai di tempat itu aku tau tempat itu yg akan kita tuju karena ia mekatakan "Akhirnya sampai" ternyata itu adalah sebuah taman, taman yg tidak terlalu besar banyak pepohonan rindang dan cukup teduh jika berada disana apalagi ketika matahari sangat terik seperti sekarang ini. Kita lalu menapakan kaki mulai memasuki tempat itu dikiri kanan setelah pintu gerbang terpampang barisan bungan berwarna warni yg sangat indah dan menandakan bahwa mereka dirawat dengan baik.
Ia berhenti disuatu titik, tidak ditempat yg ditumbuhi bunga sepertinya lalu aku mulai mendekatinya terlihat ia sedang memperhatikan sebuah tanaman liar "Itukan tanaman liar" kataku "Dandelion" jawabnya "Dandelion?" Tanyaku bingung, bukannya tak tau apa itu dandelion hanya saja aku bingung dengan pernyataannya.. "Iya dandelion, hanya rumput liar" katanya "Tapi apa kamu tau, dandelion ini dapat mengajarimu suatu hal" tambahnya
"Apa itu?" Kata ku
"Dandelion dapat tumbuh dimana saja, di tempat yg subur hingga gersang sekalipun, pada suatu keadaan tidak ada salahnya ketika menginterpretasikan diri kita sebagai dandelion, artinya seperti apapun lingkunganmu atau keadaan yg kamu hadapi kamu hanya perlu tumbuh dan mekar, tetap jadi diri sendiri, tidak perlu menyesuaikan dengan merubah apa yg kamu pegang sebelumnya seperti dandelion dimanapun ia berada ia menyesuaikan diri tanpa merubah wujudnya, tetap seperti ini, cukup indah walau sedikit rapuh" sebuah penjabaran yg cukup jelas namun aku harus mencernanya beberapa saat untuk mengetahui inti dari kata katanya.

Lalu kami berjalan lagi memasuki tempat itu, ia menunjuk kearah bangku taman, dibawah pohon yg cukup rindang, baru saja kami duduk dia berdiri lagi dan katanya "tunggu sebentar" kujawab "iya"
"Jangan takut" katanya "iya" jawabku
"Kukira kamu akan bilang takut" "memangnya kenapa?" Tanyaku "biar bisa kutenangkan saja" katanya sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Iapun berlalu, seketika ku lihat kondisi tempat itu cukup ramai, banyak anak anak yg sedang bermain, keluarga yg menghabiskan waktunya bersama dan adapun orang orang yg sedang olahraga, tempat yg cukup hangat dengan banyak aktifitas didalamnya padahal masih cukup siang tapi sudah banyak orang berkumpul disini, aku sedikit tersenyum dan kurasa ini menenangkan.

Ia kembali, seraya duduk ia menyodorkan sebotol air mineral kepadaku sambil berkata "Semua org suka air putih" "Iya terimakasih" balasku
"Kali ini bukan coffee" katanya "Iya, cukup ramai ya disini" balasku
"Tunggu sedikit petang maka akan lebih banyak orang disini"
"Kamu sering ke tempat ini?" Tanyaku
"Tidak juga, tapi ini salah satu tempatku menghabiskan waktu, sekedar duduk duduk melihat mereka sambil mencari inspirasi hehehe"
 "Salah satu? Berarti ada tempat lainnya?"
"Anggap saja seperti itu"
"Hmmm.. apakah kamu akan mengajakku ke tempat lainnya?" Tanyaku
"Tempat lainnya tidak menyenangkan seperti disini, kukira kamu akan bosan, karena itu aku memilih tempat ini untuk kita kunjungi bersama"
"Jangan menyimpulkan sendiri, jika tidak dicoba tidak akan tau kan"
"Baik nona, kapanpun anda siap hamba siap mengantarmu" jawabnya dengan gestur seperti seorang pelayan
"Iihhh jangan kayak gitu" jawabku cukup keras, hingga terlihat hampir semua org disekitar menoleh kearah kami. Muka ku memerah dan dia hanya tertawa.

Setelah cukup lama disana, mengobrol, bermain dengan anak anak disana hingga hal lainnya akhirnya kita pulang setelah dia berkata "Kamu harus pulang" walau kujawab "Sebentar lagi" Ia berkata "Aku tidak mau mengajakmu pergi hingga hari gelap, tidak enak dengan keluargamu" katanya sehingga tak bisa ku sangkal lagi. Kamipun berjalan keluar taman itu dan menyusuri jalan hingga ke halte bis tempat kami turun sebelumnya, seakan tidak kehabisan bahan obrolan kamipun masih berbincang ketika itu, ia berkata bahwa ia sekolah di sekolah kejuruan "Sekolah sama hobi kok ga selaras" kataku
"Pendidikan bukan dasar ku menentukan hobi" jawabnya. Langit semakin gelap bukan karena malam akan tiba tapi sepertinya hujan yg akan datang menghampiri.

Setibanya di halte tidak perlu waktu lama bis yg kita tunggu sudah berhenti tepat dihadapanku, kami masuk dan aku memilih kursi sebelah kiri samping jendela, aku suka duduk disamping jendela bayak hal yg bisa kulihat selama perjalanan dan itu menyenangkan. Ia duduk dihadapanku yaa seperti biasa ia banyak diam, tetapi jika ku buka percakapan ia akan meresponnya dengan baik dan menyenangkan, tetapi sekarang ntah kenapa ia hanya sedikit bicara mungkin ia kelelahan, ya, mungkin. Setengah perjalan, dan hujan mulai turun aku hanya melihat keluar jendela lalu kudengar suaranya "Ternyata kamu benar benar suka hujan" aku hanya tersenyum menandakan setuju dengan pernyataannya.

Kita turun di halte tempat kami pertama bertemu, masih hujan dan kami memutuskan menunggu. Sudah hampir 30menit kami menunggu namun hujan tak kunjung reda, tak terlalu besar namun dapat membuatku basah kuyup apabila aku ada didalamnya. Hari semakin gelap ditambah hujan yg tak kunjung reda, bisa saja aku meminta kakakku menjemputku namun kuurungkan dan memilih menemaninya menunggu hujan berhenti.
"Rumahku dekat biar kubawa payungmu"
"tunggu reda dulu" kataku
"Maaf, aku lupa membawa payungmu" katanya lagi "Gapapa kali haha lebay" balasku sambil tertawa
"Kamu naik bis lagi?" "Ini halte paling dekat dengan rumahku" jawabku
"Yasudah kuantar pulang" katanya dengan gestur seperti mengajak "Gausah" aku menolaknya bukan karena tidak mau, mungkin karena malu dan merasa akan merepotkannya
"Udah gelap, aku punya sepeda motor, tapi dirumah hehe" katanya "Jadi mampir ke rumahku dulu, jika kamu mau"
Akhirnya aku hanya mengangguk untuk berkata "iya"
Hujan sedikit mereda dan ia mengajakku kerumahnya untuk mengambil sepeda motornya "Udah aga reda, ayo biar ga terlalu larut" kulihat jam sudah pukul 6 lewat dan aku berdiri mengiyakan ajakannya.

Aku sedang duduk di sofa rumahnya sambil menelpon kakaku untuk bilang gausah aku dijemputnya, tiba tiba ada seorang gadis mengintip dibalik pintu kemudian tersenyum dan mengangguk kubalas dengan hal yang sama. Ia pun datang diikuti oleh gadis tadi dibelakangnya "Ini adikku" katanya "Hallo kak aku Lala" kata gadis itu
"Aku Viny"balasku singkat "Kak Vin pacarnya abang?" Aku kaget tiba tiba dilontarkan pertanyaan seperti itu "Ihh apaan sih anak kecil" Dia langsung menjawab pertanyaan adiknya sambil melirik kearahku yang hanya tersenyum karena malu "Ayo vin, udh malem" itu pertama kalinya hari ini ia menyebut namaku "Dadah kak vin, nanti main lagi" kata anak itu sambil melambaikan tangan "Dadah Lala" balasku sambil tersenyum

Dijalan kita tak banyak mengobrol mungkin masih canggung karena situasi barusan, tapi memang ia jarang memulai percakapan lebih dahulu, mungkin benar ketika ia bilang bahwa ia orng yg pemalu.

Akhirnya sampai dirumah "mampir dulu" kataku "kamu harus istirahat" jawabnya "Yasudah hati hati, lain kali ajak aku main lagi, ke tempat yang lebih menyenangkan"
"Iya" jawabnya dengan senyuman, itu adalah percakapan terakhir kita hari itu. Hari yg melelahkan, oh bukan tapi menyenangkan. Terimakasih, sampai jumpa, lagi.

Rabu, 23 Januari 2019

Sunflower Girl (5)

Setelah ia datang lalu kami duduk di bangku halte itu, ia terlihat sangat menawan hari ini rambut ponytail disertai sweater warna kuning itu sangatlah cocok, begitu bersinar seperti matahari, tidak, seperti bunga matahari, sang gadis bunga matahari.
"Kita mau kemana?" Ia membuka percakapan
"Suatu tempat"
"Itu bukan jawaban yg ku harapkan" katanya lagi
"Hahaha" aku sedikit tertawa "Akupun tidak yakin" jawabku
"Kenapa?" Kembali ia bertanya
"Karena aku tidak tau apakah kamu akan menyukainya atau tidak"
"Kalau begitu aku hanya bisa menunggu" Katanya
Tak lama kemudian bus yg kita tunggu akhirnya tiba, bus itu cukup kosong sehingga kita bebas memilih tempat duduk, lalu ia memilih bangku pinggir jendela sebelah kiri dan aku hanya mengikutinya karena kurasa itu pilihan yg bagus. Kita duduk berhadapan agar kita bisa banyak mengobrol kurasa, tapi kulihat ia mengeluarkan smartphone nya, sepertinya kita akan sibuk masing masing, lalu akupun berniat mengeluarkan smartphone ku karena tak mungkin aku hanya duduk diam melihatnya saja, namun tiba tiba
"Kita akan pergi kesini?" Katanya sambil memperlihatkan gambar dilayar smartphone nya
"Kita bisa kesana kalo kamu ingin" jawabku. Ia sedikit mencerna kata kataku, kemudian ia mengarahkan smartphone nya kepadaku
"Ngapain?" Kutanya
"Mengambil fotomu" katanya.
Ah, kenapa ini? Kenapa aku jadi gugup, aku harus tetap tenang karena aku tak tau apa maksudnya
"Untuk apa?" Tanyaku dengan tatapan bingung
"Kita gapernah tau" ia bilang "mungkin kamu akan menculikku"
Aku masih mencerna kata katanya
"Jika kamu menculikku aku tinggal mengirim ini ke orang tuaku" ia menuntaskan kalimatnya dengan sedikit senyuman.
Aku tertawa dan lalu melakukan hal yg sama
"Ngapaiinn?" Tanyanya
"Akupun mengambil fotomu"
"Tapi aku tidak akan menculikmu" katanya
"Bukan" jawabku "Kalo aku menculikmu aku kirim foto ini ke orang tuamu"
"Hahaha, tapi kamu gaakan bisa melakukannya" katanya sambil tertawa
"Kalo begitu untuk ku simpan"
"Kenapa kamu simpan?" "Jangan bilang kamu penggemar beratku" katanya dengan nada meledek
"Aku simpan sebagai bukti bahwa aku pernah bertemu dan pergi bersamamu" jelasku
"Apa kamu melakukannya setiap pergi dengan perempuan?" "Dasar Playboy hahaha" katanya
"Yaa kamu boleh menilaiku seperti itu, tapi sayangnya aku baru pertama kali pergi seperti ini dengan perempuan" jawabku
"Seriuss?"
"Ya, untuk berbicara saja aku ragu" kataku "karena kupikir aku membosankan"
"Tapi aku tidak percaya" ia menyanggah pernyataanku
"Iya jangan, musyrik, percaya tuhan aja" candaku
"Iiihh, bukan gitu, ketika itu kamu dengan percaya dirinya berbicara padaku padahal sama sekali kita belum saling mengenal" katanya
"Karena kamu terlihat murung dan kurasa akan sedikit terhibur ketika ada teman bicara"
"Yaa kamu berhasil" jawabnya "Tapi kamupun mengajakku bertemu hari ini, dan kurasa itu tidak ragu ragu" jelasnya
"Sebelumnya kita sudah sepakat akan bertemu tanpa mengandalkan ke tidak sengajaan"
"Yaa, lalu?" Ia bertanya
"Dan kurasa hari ini hari yg tepat"

Sekitar 40 menit berlalu dan kita telah sampai ditempat tujuan, kubilang padanya "Kita turun disini" ia hanya mengangguk dan mengikutiku.
Setelah turun aku langsung menunjuk kearah sebrang jalan "Kita akan kesana" "Kuharap kamu tidak kecewa" kataku sambil meliriknya.
Inilah tempat yg sedari awal akan kami datangi sebuah coffee shop, tempat yg cukup sederhana tidak terlalu ramai karena bukan ditengah kota dan membuatku senang ketika harus datang kesini, kuharap iapun menyukainya, semoga.
"Kenapa selalu coffe?" Ia bertanya sembari memilih apa yg akan dipesannya
"Kukira kamu menyukainya"
"Menurutmu seperti itu?" Katanya lagi "Entahlah mungkin karena kamu pernah memberiku sekaleng coffee ketika itu" jelasku "Hahaha kayaknya kamu keliru" jawabnya sambil tersenyum. Obrolan kita diiringi lagu weezer yg sedari tadi telah menyuara, 'Island the sun' lagu yg cocok untuk hari yg cerah ditambah dengan hadirnya sang "gadis bunga matahari".

Sabtu, 26 Mei 2018

08:00 am (4)

Untuk ke sekian kalinya aku duduk disini, dan untuk kali ini pertemuan itu bukan hal yg kebetulan lagi, kita merencanakan akan bertemu disini hari sabtu pukul delapan, dan sekarang? Jam masih menunjukan angka 7 dan 24, ohtidak aku terlalu cepat, aku hanya tidak sabar untuk bertemu dengannya. Lagi.

Aku masih tertunduk, duduk diatas sebuah bangku panjang yang tertutup fiber dibagian atas, mungkin bangku itu memang didesain seperti ini, agar dapat ditempati seseorang saat berada dalam situasi sama sepertiku. Sudah lebih dari 30menit aku menunggu namun kali ini aku tak menunggu hujan reda, kali ini aku menunggu kedatangannya yang 3 hari lalu kami rencanakan. Tak lama aku melihat seorang gadis yg telah berjalan terburu buru, setelah cukup jelas ternyata itu dia, gadis itu, org yg ku tunggu, lalu aku berdiri dan lekas menghampirinya.

***
Aku merasa sangat lelah setelah menjalankan berbagai aktivitas, kali ini aku hanya membaringkan tubuhku diatas tempat tidur yang kata orang gravitasinya sangat kuat, dan sekarang aku merasakannya. Mungkin aku akan terlelap, kupikir begitu, namun, ponselku berbunyi, ah tidakkk.. kutaruhnya di atas meja barusan, aku sangat malas untuk beranjak, tadinya aku akan menghiraukannya, tapi jika penting aku yg rugi, akhirnya ponsel itu kuambil dan ternyata, ya dia akhirnya menghubungiku tertulis di layar ponselku "Halooo..." Dia yg selama ini aku tunggu akhirnya muncul kembali, dia bertanya beberapa hal seperti "Gmn kabarmu" hingga "Belakangan lg sibuk apaa??" Aku sangat sadar itu hanya pertanyaan basa basi hingga diakhir dia akan memberitaukan maksudnya, namun tetap aku tanggapi, dia orang yg menarik dan tidak rugi untuk berbincang dengannya, sangat lama kita bertukar pesan ternyata, hingga akhirnya "Mari kita bertemu" "Tentu saja kali ini jangan mengandalkan ketidak sengajaan" katanya, aku menyetujuinya, kapan dan dimana kutanya "Kapan kamu luang?" Lalu ku jawab "Akhir pekan" setelah itu beberapa menit kemudian "Oke, kita bertemu hari sabtu, 3 hari dari sekarang, di tempat kita terakhir kali bertemu, jam 8 pagi tidak kurang tidak lebih" tanpa berfikir panjang aku menyetujuinya.

Lalu ia mengirim pesan lagi dan kubaca yg isinya "Sudah larut, selamat malam, maaf aku mengganggu mu" kulihat ternyata sudah sangat larut jam di ponselku menunjukan angka 00.11. lalu ku jawab "Tapi ini sudah pagi" tak kunjung ada balasan hanya ada tulisan "read" diatas waktu pengiriman pesan terakhirku  dan tulisan "last seen today at 00.13" dibawah namanya, ah sudahlah, ini sudah cukup baik untuk mengatarkanku menuju ketidak sadaran yg sedari tadi ku nanti.

Hari hari selanjutnya kujalani seperti biasa, sekolah, tugas, part time sudah menjadi rutinitas yg cukup merepotkan, hari demi hari berlalu, dan kini tiba saatnya untuk bertemu dengannya. Pagi yg cukup dingin seolah melarangku untuk melangkah keluar sangkar yg disebut rumah, namun pertemuanku dengannya berlangsung hari ini dan aku harusnya segera bersiap. Sekarang aku siap untuk bergegas, kuminta kakaku untuk mengantarku dia bilang iya aku bilang ayo, kita bergegas tapi tak diantarnya sampai tujuan, katanya beda arah yasudah daripada tidak sama sekali. Aku dipaksa turun di sebuah perempatan yg tidak terlalu jauh dari tempat yg telah disepakati mungkin jaraknya lebih kurang 100meter dari tempat itu. Aku berjalan cukup cepat karena kupikir aku akan telat, akhirnya halte itu terlihat aku mempercepat langkahku, kulihat jam sudah menunjukan angka 08.04 dan ketika kulihat kedepan ia sudah ada di hadapanku "Hai.." katanya "Halo" kujawab "Sudah lama menunggu" tanyaku "Sekitar 4 menit".

Selasa, 05 Desember 2017

An Umbrella (3)

Hari berganti hari dan aku masih belum menemukan sesuatu yg pas untuk melanjutkan apa yg aku kerjakan, saran dari org itu sempat membuat ku percaya diri namun hanya sesaat, dan sekarang aku sudah tak bisa menemukan kepercayaan diri tersebut bagai hilang ditelan bumi, seandainya saja ada dia mungkin aku masih dapat tenang dan tak akan seperti ini, huh mengapa aku jadi berfikir yg aneh aneh sudahlah lagian aku belum lama juga mengenalnya. Sore hari tiba akupun memutuskan untuk pergi keluar sekedar me refresh otaku dan ponselku tak akan terlupa kali ini. Ah mendung, kuharap  hari ini tidak turun hujan, akupun berjalan menyusuri jalan komplek rumahku, sekedar mencari inspirasi, namun apa yg kudapat hanya rasa bosan yg menghampiri diriku, langkahku terhenti saat berada didepan sebuah halte bis, aku mengingat sesuatu tentang tempat itu yg katanya aku sudah 2 kali bertemu dengannya dan sekarang aku sudah ingat, ternyata dia adalah gadis murung yg tempo hari aku beri sekaleng coffee, dan sekarang akupun membawa dua kaleng coffee, apa aku berharap akan menemukan dia disini? Jangan bodoh jangan berfikiran sesuatu yg mustahil.

Tiba tiba, ah hujan turun, dengan terpaksa aku menepi ditempat itu, aku berharap hujan segera berakhir karena hari sudah mulai gelap, pukul berapa sekarang? Sial sudah sangat petang, lalu sekarang apa yg harus kulakukan? Aku hanya tertunduk, duduk diatas sebuah bangku panjang yg tertutup fiber dibagian atas, mungkin bangku itu memang didesain seperti ini, agar dapat ditempati seseorang saat berada dalam situasi sama sepertiku. Sudah hampir 30menit aku menunggu namun hujan tak kunjung reda, tak terlalu besar namun dapat membuatku basah kuyup apabila aku ada didalamnya

Tak lama sebuah bis berhenti didepanku, pintunya terbuka dan bis itu menurunkan seseorang, seorang wanita yg mengenakan sebuah sweater yg kurasa akan sangat hangat ketika mengenakannya dan celana panjang berwarna hitam. Ia turun dengan sebuah senyuman di wajahnya, ia menatapku, lalu ia kembali tersenyum, aku masih menatapnya heran "Hai K.." ah suara itu masih sama dan masih kuingat, "Hai V.." jawabku,
"Mengapa kau memanggilku seperti itu?" Tanyanya
"Karena kau pun memanggilku dengan inisial ku"
Lalu kita tertawa bersamaan, iapun duduk di sebelah ku. Ya dialah org yg aku cari, dialah gadis itu, dialah seseorang yg memunculkan kembali kepercayaan diriku
"Apa kamu selalu kesini?" Tanyanya
"Tidak juga, aku hanya sedang ingin bertemu seseorang"
"Mengapa bertemu di tempat seperti ini?"
"Karena pertemuan ku dengannya selalu tepat disini?"
"Hahaha menurutku ini tempat yg cukup aneh untuk suatu pertemuan" Candanya
"Akupun berfikir hal yg sama, namun aku tak dapat menghubunginya untuk bertemu di tempat lain"
"Lalu bagaimana kamu tau bahwa kamu akan bertemu dengannya"
"Pertemuan yg kumaksud tengah terjadi sekarang"
"Apa kau ingin menemui ku?" Tanyanya heran
"Seperti itulah haha"
"Mengapa kau tak menghubungiku saja, aku sempat menelpon mu tempo hari"
"Aku terlalu takut untuk melakukannya"
"Karena?"
"Aku pikir kita belum lama saling mengenal"
"Hahaha lebay kamu"
"Yasudah besok aku akan mengubungi mu"
"Untuk?"
"Kita atur jadwal pertemuan selanjutnya haha" candaku
"Ya, kita tak perlu mengandalkan kebetulan lagi untuk berjumpa" katanya yg lalu melihat kedepan
Akupun mengeluarkan coffee yg tadi aku bawa lalu menawarkan 1 kaleng padanya
"Terima kasih, tapi mengapa kau selalu membawa 2 kaleng?"
"Karena aku sudah bilang akan bertemu seseorang, dan akan lebih menyenangkan ketika kita sambil meminum coffee"
"Ya, tapi coffee dingin di hari hujan adalah pilihan terburuk hahaha" candanya, aku pikir ia lebih banyak teryawa sekarang
"Akupun berfikir seperti itu"
"Lalu.."
"Jika aku membawa teh hangat aku perlu air panas setidaknya" dia hanya menanggapinya dengan senyuman dan sedikit gelengan kepala, lalu kembali melihat kearah depan
"Mengapa kau selalu memperhatikan hujan?" Aku kembali bertanya dan dia hanya tersenyum lagi
"Apa kau sengaja datang kesini untuk memperhatikan hujan?" Pertanyaanku selanjutnya
"Tidak, akupun ingin bertemu seseorang dan pertemuanku denganya selalu diiringi hujan" akhirnya dia mau menjawab pertanyaan konyol ku.

Aku berbincang dengannya membicarakan hal hal yg tidak penting untuk di bahas, lalu mobil itu perlahan mendekati kami, ya mobil yg membawanya menghampiri ketiadaan tempo hari, sekarang mobil itu tepat didepan kami lalu ia berdiri sambil tersenyum ia berkata "Sampai jumpa Karavaaa.." katanya sambil melambaikan tangan "Sampai jumpa Viny" balasku dengan senyuman, ia pun sudah tak terlihat lagi kini aku sendiri lagi, huh aku pikir hujan akan cukup lama dan aku harus menunggu hingga reda untuk pulang. Lalu tiba tiba pintu mobil itu terbuka lagi dan gadis itu turun kembali sambil menutupi kepala nya dengan tangan, ia menghampiri ku "Aku punya payung, pakailah kukira hujan akan berlangsung lama" katanya sambil menyodorkan sebuah payung pada ku, aku mengambilnya seraya berkata "Terima kasih, lalu kapan aku harus mengembalikannya?"
"Kita akan bertemu di lain waktu, bawalah jika kamu tidak keberatan" jawabnya
"Okay, akan kuingat"
"Sampai jumpa, lagi hahaha"
Iapun kembali masuk kedalam mobil lalu mobil itu melaju hingga membawanya menuju ketiadaan, ya waktunya untuk pulang, aku masih harus menyelesaikan sesuatu dan kepercayaan diriku sudah sangat penuh sekarang hahaha. Menurutku itu adalah pertemuan singkat nan hebat yang membuatku menjadi terpikat. Ah, sudahlah jangan berfikiran yg aneh aneh, ya sampai jumpa, lagi vin...

Minggu, 03 Januari 2016

Epilog

Kau lupa, kau telah patah hati.
Menangisi seseorang yg bahkan tak perduli, meratapi sebuah moment yg sudah takkan lagi berarti

Kau lupa, kau tengah patah hati.
Oleh seseorang yg tak lagi disini, lalu kau ingat, dengannya kau pernah bahagia, tertawa, dan masih banyak bila harus kau urai dalam sebuah kata.

Kau harus ingat, hatimu kini terluka.
Menangisi sesuatu yg mustahil kau dapati, Kau kira semua akan baik dan akan tetap pada genggamanmu, namun kau harus tau, semuanya telah berakhir.

Kau harus tau, patah hati bukan akhir dari segalanya.
Mungkin hari ini kau menangisi sesuatu yg fana, tapi esok kau harus mendapati sesuatu yg nyata, jangan ragu untuk bangkit, karena langkah takkan tercipta tanpa kau bangkit.

Tekadkan, bahwa kau pantas bahagia.
Bukan harus melulu merasa pilu, ada kalanya kau terpuruk, namun itu hanya sesaat, karena kau bisa cipta apa yg kau suka.

Lalu ingat, kau harus melupa seseorang itu.
Bukannya kau tak suka lagi, namun sadar bahwa kau bukan yg ia kasihi, bukannya tak setia, namun percuma, kasih jika dibalas pedih, lalu kau menjadikannya sebuah kisah, dan melupanya sebagai sejarah.

Bandung 2 Januari 2016

Minggu, 27 Desember 2015

Dan

Dan..
Seseorang yang memandangmu, bukan dari satu sisi saja, kau tau ia selalu perhatikanmu, kau sadar ia selalu menatapmu bahkan ketika kau tak bersamanya, ia melihatmu dari cara yang berbeda.

Seseorang yang akan mendengarmu, ketika kau berbicara tentang banyak hal, tentang apapun yg kau sukai, ia mendengarkanmu, hanya karena ingin kau merasa nyaman.

Ia akan mendengarmu bahkan ketika ia tak ingin melakukan apapun, ia akan tersenyum bahkan ketika ia sedang merasa gelisah.

Dengannya kau belajar banyak hal, tentang apapun yang membuat dirimu senang, denganya kau tau bagaimana menjadi orang yang dirindukan.

Bahkan ketika ia jauh, kau akan tau bahwa kau adalah seorang yang sangat ia dambakan, ia menghawatirkanmu, tanpa perlu kau mengetahuinya.

Akan ada seseorang yg mengerti seperti apa kau ingin di perlakukan, dengannya kau merasakan kenyamanan, dengannya kau mengerti menjadi seseorang yang dikasihi.

Didepanmu ia selalu berkata:
"Aku mencintaimu, sungguh seperti itu" itu merupakan pernyataan yang cukup lengkap, tak usahlah kau meraguinya

Kau selalu merasa bahwa dia akan selalu ada untukmu, karena dengannya kau bahagia, kau tertawa dan mungkin sesuatu yang lebih menyenangkan dari itu.

Namun terkadang ia merasa ragu, dalam keraguannya tersebut ia tetap mendoakanmu:
"Tuhan, izinkanlah aku bahagia bersamanya, namun jika tidak, aku mohon, bahagiakanlah ia bersama org yang selalu ia sebut dalam doanya"

Seseorang yang selalu memimpikanmu, dalam tidurnya kau yang selalu muncul dalam mimpinya, saat terjaga kau yang pertama diingatnya, saat bahagia ia berharap kau bersamanya, saat gelisah, mungkin ia sedang mengkhawatirkanmu

Ia tau bahwa kau bukan miliknya, ia mengerti bahwa ia tak dapat memaksakan kehendaknya, namun ia tetap mencintaimu, mendamba seorang kau, lalu kau akhirnya mengerti apa itu cinta sejati.

Bandung 27 Desember 2015

Sabtu, 19 Desember 2015

Inilah Akhirnya

Iapun sampai di sebuah persimpangan, sebuah persimpangan yg mengingatkannya kepada sebuah kejadian, kejadian yg telah lama ia lupakan, kejadian yg benar benar mengubah hidupnya

Hari itu aku terbangun dengan dengan sangat tidak bersemangat, hpku masih berbunyi menandakan ada telepon masuk, kulihat ternyata itu panggilan dari Al, lalu kujawab panggilan tersebut.
"Halo.."
"Jam segini masih molor aja, dasar pelor, cepet bangun"
"Iya ini udh bangun"
"Awas telat, cepet sadar haha"
"Iya, baweeell.."
"Yaudah, aku udh mau pergi, daaah"
"Aku jemput ya?"
"Idiih, mandi aja belom so soan mau jemput hahaha, udh ah, jangan telat yaa"
"Hmmm..." aku jawab seadanya, lalu ia menutup panggilannya.

Akupun segera bergegas untuk bersiap siap, setelah selesai segalanya aku langsung tancap gas dengan sepeda motorku, akupun sampai disekolah, sebuah tempat yg selalu ingin kuhapuskan, sebuah tempat yg mengunciku selama kurang lebih delapan jam, namun ada satu hal yg selalu ingin aku temui disekolah.
"Digyaa...."
"Apasih Al.." ya namanya Althea, Althea Calista lengkapnya, hanya itu yg bisa membuatku tersenyum disekolah
"Tumben ga telat haha.."
"Hmmm.." kataku sambil tetap berjalan menuju kelas
"Pulangnya anter aku ya"
"Kemana?"
"Pokoknya anter, ga ada alesan, daaah aku kekelas dulu"
Iapun berlalu, akupun maaul kelas, ya saatnya untuk tertidur lagi.

Tanpa terasa hari sudah menunjukan waktu untuk pulang, akupun menunggu Althea di pintu gerbang, tak lama ia datang lalu kami mulai menuju tempat yg ntah kemana Aku akan dibawa, kami melewati sebuah perempatan lalu tiba tiba aku seperti terhantam sebuah benda besar, dan aku tak ingat apa apa lagi.

"Berita dikoran mengabarkan sebuah motor yg ditumpangi dua orang siswa tertabrak sebuah bus, seorang pria yg yg mengendarai motor ditemukan tewas sementara sang wanita ditemukan dengan keadaan kritis"

Lalu gadis itu berlalu, meninggalkan perempatan tersebut, tempat yg sangat mengubah hidupnya..