Setelah ia datang lalu kami duduk di bangku halte itu, ia terlihat sangat menawan hari ini rambut ponytail disertai sweater warna kuning itu sangatlah cocok, begitu bersinar seperti matahari, tidak, seperti bunga matahari, sang gadis bunga matahari.
"Kita mau kemana?" Ia membuka percakapan
"Suatu tempat"
"Itu bukan jawaban yg ku harapkan" katanya lagi
"Hahaha" aku sedikit tertawa "Akupun tidak yakin" jawabku
"Kenapa?" Kembali ia bertanya
"Karena aku tidak tau apakah kamu akan menyukainya atau tidak"
"Kalau begitu aku hanya bisa menunggu" Katanya
Tak lama kemudian bus yg kita tunggu akhirnya tiba, bus itu cukup kosong sehingga kita bebas memilih tempat duduk, lalu ia memilih bangku pinggir jendela sebelah kiri dan aku hanya mengikutinya karena kurasa itu pilihan yg bagus. Kita duduk berhadapan agar kita bisa banyak mengobrol kurasa, tapi kulihat ia mengeluarkan smartphone nya, sepertinya kita akan sibuk masing masing, lalu akupun berniat mengeluarkan smartphone ku karena tak mungkin aku hanya duduk diam melihatnya saja, namun tiba tiba
"Kita akan pergi kesini?" Katanya sambil memperlihatkan gambar dilayar smartphone nya
"Kita bisa kesana kalo kamu ingin" jawabku. Ia sedikit mencerna kata kataku, kemudian ia mengarahkan smartphone nya kepadaku
"Ngapain?" Kutanya
"Mengambil fotomu" katanya.
Ah, kenapa ini? Kenapa aku jadi gugup, aku harus tetap tenang karena aku tak tau apa maksudnya
"Untuk apa?" Tanyaku dengan tatapan bingung
"Kita gapernah tau" ia bilang "mungkin kamu akan menculikku"
Aku masih mencerna kata katanya
"Jika kamu menculikku aku tinggal mengirim ini ke orang tuaku" ia menuntaskan kalimatnya dengan sedikit senyuman.
Aku tertawa dan lalu melakukan hal yg sama
"Ngapaiinn?" Tanyanya
"Akupun mengambil fotomu"
"Tapi aku tidak akan menculikmu" katanya
"Bukan" jawabku "Kalo aku menculikmu aku kirim foto ini ke orang tuamu"
"Hahaha, tapi kamu gaakan bisa melakukannya" katanya sambil tertawa
"Kalo begitu untuk ku simpan"
"Kenapa kamu simpan?" "Jangan bilang kamu penggemar beratku" katanya dengan nada meledek
"Aku simpan sebagai bukti bahwa aku pernah bertemu dan pergi bersamamu" jelasku
"Apa kamu melakukannya setiap pergi dengan perempuan?" "Dasar Playboy hahaha" katanya
"Yaa kamu boleh menilaiku seperti itu, tapi sayangnya aku baru pertama kali pergi seperti ini dengan perempuan" jawabku
"Seriuss?"
"Ya, untuk berbicara saja aku ragu" kataku "karena kupikir aku membosankan"
"Tapi aku tidak percaya" ia menyanggah pernyataanku
"Iya jangan, musyrik, percaya tuhan aja" candaku
"Iiihh, bukan gitu, ketika itu kamu dengan percaya dirinya berbicara padaku padahal sama sekali kita belum saling mengenal" katanya
"Karena kamu terlihat murung dan kurasa akan sedikit terhibur ketika ada teman bicara"
"Yaa kamu berhasil" jawabnya "Tapi kamupun mengajakku bertemu hari ini, dan kurasa itu tidak ragu ragu" jelasnya
"Sebelumnya kita sudah sepakat akan bertemu tanpa mengandalkan ke tidak sengajaan"
"Yaa, lalu?" Ia bertanya
"Dan kurasa hari ini hari yg tepat"
Sekitar 40 menit berlalu dan kita telah sampai ditempat tujuan, kubilang padanya "Kita turun disini" ia hanya mengangguk dan mengikutiku.
Setelah turun aku langsung menunjuk kearah sebrang jalan "Kita akan kesana" "Kuharap kamu tidak kecewa" kataku sambil meliriknya.
Inilah tempat yg sedari awal akan kami datangi sebuah coffee shop, tempat yg cukup sederhana tidak terlalu ramai karena bukan ditengah kota dan membuatku senang ketika harus datang kesini, kuharap iapun menyukainya, semoga.
"Kenapa selalu coffe?" Ia bertanya sembari memilih apa yg akan dipesannya
"Kukira kamu menyukainya"
"Menurutmu seperti itu?" Katanya lagi "Entahlah mungkin karena kamu pernah memberiku sekaleng coffee ketika itu" jelasku "Hahaha kayaknya kamu keliru" jawabnya sambil tersenyum. Obrolan kita diiringi lagu weezer yg sedari tadi telah menyuara, 'Island the sun' lagu yg cocok untuk hari yg cerah ditambah dengan hadirnya sang "gadis bunga matahari".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar