Senin, 18 Mei 2020

Dandelion (6)

Kulihat ia cukup menikmati percakapan kita, sesekali ia meneguk coffee nya selagi aku berbicara, sesekali ia melontarkan candaan yg membuat pertemuan kali ini terasa sungguh menyenangkan, namun sesekali kali ia melihat jam kukira ia bosan dengan percakapan ini hingga akhirnya aku memberanikan bertanya "kenapa? Apakah..." Sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku ia memotongnya seraya berkata
"Ngga, aku ingin mengajakmu ke tempat selanjutnya hanya saja, hari masih terlalu siang, dan cuaca cukup panas" katanya menjelaskan, sambil melihat jam aku bertanya "memangnya kenapa? Ada yg salah jika masih siang?"
"Tidak ada, hanya saja kita akan berjalan kaki ke tempat berikutnya, dan cukup jauh" katanya, yaa itu alasan masuk akal dan lagi jam masih menunkukan pukul 11.34 aku setuju akan merepotkan jika harus berjalan di tengah terik seperti ini.

Ia mengusulkan untuk sekalian makan siang ditempat ini, aku hanya berkata "iya" setelah itu ia melerik sekitar lalu mulai membungkukan badannya kearahku dan berbisik, "jangan pernah sekali kali kamu pesan sop iga disini" katanya
Aku menggerutkan dahi lalu bertanya "memangnya kenapa?" Lalu katanya "Soalnya gaada, kamu bakal ngerepotin kalo mau makan itu disini hahaha" kemudian ia tertawa, ya candaan ringan seperti itu yg selalu ia berikan agar kita tidak bosan yaa walaupun terkadang candaannya malah terasa garing..

Setelah makan siang, melakukan kewajiban dan hal lainnya sekarang waktunya untuk ke tempat berikutnya, jam sudah menunjukan angka 2 dan akhirnya kita beranjak dari sana, kita berjalan kaki ketempat berikutnya, katanya "tidak ada kendaraan umum yg menuju tempat itu, mau tidak mau kita harus berjalan kaki kesana" kutanya berapa lama ia menjawab "sekitar 15mnt, mungkin" Hari yg cukup panas dan aku harus berjalan selama 15mnt, tempat seperti apa yg akan kutuju memangnya pikirku ketika itu

15mnt kemudian dan kami sampai di tempat itu aku tau tempat itu yg akan kita tuju karena ia mekatakan "Akhirnya sampai" ternyata itu adalah sebuah taman, taman yg tidak terlalu besar banyak pepohonan rindang dan cukup teduh jika berada disana apalagi ketika matahari sangat terik seperti sekarang ini. Kita lalu menapakan kaki mulai memasuki tempat itu dikiri kanan setelah pintu gerbang terpampang barisan bungan berwarna warni yg sangat indah dan menandakan bahwa mereka dirawat dengan baik.
Ia berhenti disuatu titik, tidak ditempat yg ditumbuhi bunga sepertinya lalu aku mulai mendekatinya terlihat ia sedang memperhatikan sebuah tanaman liar "Itukan tanaman liar" kataku "Dandelion" jawabnya "Dandelion?" Tanyaku bingung, bukannya tak tau apa itu dandelion hanya saja aku bingung dengan pernyataannya.. "Iya dandelion, hanya rumput liar" katanya "Tapi apa kamu tau, dandelion ini dapat mengajarimu suatu hal" tambahnya
"Apa itu?" Kata ku
"Dandelion dapat tumbuh dimana saja, di tempat yg subur hingga gersang sekalipun, pada suatu keadaan tidak ada salahnya ketika menginterpretasikan diri kita sebagai dandelion, artinya seperti apapun lingkunganmu atau keadaan yg kamu hadapi kamu hanya perlu tumbuh dan mekar, tetap jadi diri sendiri, tidak perlu menyesuaikan dengan merubah apa yg kamu pegang sebelumnya seperti dandelion dimanapun ia berada ia menyesuaikan diri tanpa merubah wujudnya, tetap seperti ini, cukup indah walau sedikit rapuh" sebuah penjabaran yg cukup jelas namun aku harus mencernanya beberapa saat untuk mengetahui inti dari kata katanya.

Lalu kami berjalan lagi memasuki tempat itu, ia menunjuk kearah bangku taman, dibawah pohon yg cukup rindang, baru saja kami duduk dia berdiri lagi dan katanya "tunggu sebentar" kujawab "iya"
"Jangan takut" katanya "iya" jawabku
"Kukira kamu akan bilang takut" "memangnya kenapa?" Tanyaku "biar bisa kutenangkan saja" katanya sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Iapun berlalu, seketika ku lihat kondisi tempat itu cukup ramai, banyak anak anak yg sedang bermain, keluarga yg menghabiskan waktunya bersama dan adapun orang orang yg sedang olahraga, tempat yg cukup hangat dengan banyak aktifitas didalamnya padahal masih cukup siang tapi sudah banyak orang berkumpul disini, aku sedikit tersenyum dan kurasa ini menenangkan.

Ia kembali, seraya duduk ia menyodorkan sebotol air mineral kepadaku sambil berkata "Semua org suka air putih" "Iya terimakasih" balasku
"Kali ini bukan coffee" katanya "Iya, cukup ramai ya disini" balasku
"Tunggu sedikit petang maka akan lebih banyak orang disini"
"Kamu sering ke tempat ini?" Tanyaku
"Tidak juga, tapi ini salah satu tempatku menghabiskan waktu, sekedar duduk duduk melihat mereka sambil mencari inspirasi hehehe"
 "Salah satu? Berarti ada tempat lainnya?"
"Anggap saja seperti itu"
"Hmmm.. apakah kamu akan mengajakku ke tempat lainnya?" Tanyaku
"Tempat lainnya tidak menyenangkan seperti disini, kukira kamu akan bosan, karena itu aku memilih tempat ini untuk kita kunjungi bersama"
"Jangan menyimpulkan sendiri, jika tidak dicoba tidak akan tau kan"
"Baik nona, kapanpun anda siap hamba siap mengantarmu" jawabnya dengan gestur seperti seorang pelayan
"Iihhh jangan kayak gitu" jawabku cukup keras, hingga terlihat hampir semua org disekitar menoleh kearah kami. Muka ku memerah dan dia hanya tertawa.

Setelah cukup lama disana, mengobrol, bermain dengan anak anak disana hingga hal lainnya akhirnya kita pulang setelah dia berkata "Kamu harus pulang" walau kujawab "Sebentar lagi" Ia berkata "Aku tidak mau mengajakmu pergi hingga hari gelap, tidak enak dengan keluargamu" katanya sehingga tak bisa ku sangkal lagi. Kamipun berjalan keluar taman itu dan menyusuri jalan hingga ke halte bis tempat kami turun sebelumnya, seakan tidak kehabisan bahan obrolan kamipun masih berbincang ketika itu, ia berkata bahwa ia sekolah di sekolah kejuruan "Sekolah sama hobi kok ga selaras" kataku
"Pendidikan bukan dasar ku menentukan hobi" jawabnya. Langit semakin gelap bukan karena malam akan tiba tapi sepertinya hujan yg akan datang menghampiri.

Setibanya di halte tidak perlu waktu lama bis yg kita tunggu sudah berhenti tepat dihadapanku, kami masuk dan aku memilih kursi sebelah kiri samping jendela, aku suka duduk disamping jendela bayak hal yg bisa kulihat selama perjalanan dan itu menyenangkan. Ia duduk dihadapanku yaa seperti biasa ia banyak diam, tetapi jika ku buka percakapan ia akan meresponnya dengan baik dan menyenangkan, tetapi sekarang ntah kenapa ia hanya sedikit bicara mungkin ia kelelahan, ya, mungkin. Setengah perjalan, dan hujan mulai turun aku hanya melihat keluar jendela lalu kudengar suaranya "Ternyata kamu benar benar suka hujan" aku hanya tersenyum menandakan setuju dengan pernyataannya.

Kita turun di halte tempat kami pertama bertemu, masih hujan dan kami memutuskan menunggu. Sudah hampir 30menit kami menunggu namun hujan tak kunjung reda, tak terlalu besar namun dapat membuatku basah kuyup apabila aku ada didalamnya. Hari semakin gelap ditambah hujan yg tak kunjung reda, bisa saja aku meminta kakakku menjemputku namun kuurungkan dan memilih menemaninya menunggu hujan berhenti.
"Rumahku dekat biar kubawa payungmu"
"tunggu reda dulu" kataku
"Maaf, aku lupa membawa payungmu" katanya lagi "Gapapa kali haha lebay" balasku sambil tertawa
"Kamu naik bis lagi?" "Ini halte paling dekat dengan rumahku" jawabku
"Yasudah kuantar pulang" katanya dengan gestur seperti mengajak "Gausah" aku menolaknya bukan karena tidak mau, mungkin karena malu dan merasa akan merepotkannya
"Udah gelap, aku punya sepeda motor, tapi dirumah hehe" katanya "Jadi mampir ke rumahku dulu, jika kamu mau"
Akhirnya aku hanya mengangguk untuk berkata "iya"
Hujan sedikit mereda dan ia mengajakku kerumahnya untuk mengambil sepeda motornya "Udah aga reda, ayo biar ga terlalu larut" kulihat jam sudah pukul 6 lewat dan aku berdiri mengiyakan ajakannya.

Aku sedang duduk di sofa rumahnya sambil menelpon kakaku untuk bilang gausah aku dijemputnya, tiba tiba ada seorang gadis mengintip dibalik pintu kemudian tersenyum dan mengangguk kubalas dengan hal yang sama. Ia pun datang diikuti oleh gadis tadi dibelakangnya "Ini adikku" katanya "Hallo kak aku Lala" kata gadis itu
"Aku Viny"balasku singkat "Kak Vin pacarnya abang?" Aku kaget tiba tiba dilontarkan pertanyaan seperti itu "Ihh apaan sih anak kecil" Dia langsung menjawab pertanyaan adiknya sambil melirik kearahku yang hanya tersenyum karena malu "Ayo vin, udh malem" itu pertama kalinya hari ini ia menyebut namaku "Dadah kak vin, nanti main lagi" kata anak itu sambil melambaikan tangan "Dadah Lala" balasku sambil tersenyum

Dijalan kita tak banyak mengobrol mungkin masih canggung karena situasi barusan, tapi memang ia jarang memulai percakapan lebih dahulu, mungkin benar ketika ia bilang bahwa ia orng yg pemalu.

Akhirnya sampai dirumah "mampir dulu" kataku "kamu harus istirahat" jawabnya "Yasudah hati hati, lain kali ajak aku main lagi, ke tempat yang lebih menyenangkan"
"Iya" jawabnya dengan senyuman, itu adalah percakapan terakhir kita hari itu. Hari yg melelahkan, oh bukan tapi menyenangkan. Terimakasih, sampai jumpa, lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar